Showing posts with label Lomba Artikel Guraru. Show all posts
Showing posts with label Lomba Artikel Guraru. Show all posts

Friday, 8 June 2012

Proses Belajar Kondusif Dengan Games


Lucu rasanya ketika saya meneriakkan kalimat “Ok. Game Time!”, wajah anak-anak mendadak sumringah dan mereka spontan jejingkrakan. “Horeee!!! Horee! Iya Miss ! Kita main games! Games!!”.
Bagi anak-anak kalau mendengar kata “Games” itu berarti tandanya berhenti belajar. Sudah tiba waktunya bagi mereka bermain dan bersenang-senang. Padahal tanpa mereka sadari didalam games itu tetap ada unsur belajarnya juga.

Berdasarkan pendapat Bob Gregson seperti yang dikutip oleh Nur Fatimah di bukunya “Fun ELT” menyebutkan tiga manfaat games dalam belajar bahasa :
1. Kegiatan yang dilakukan dapat melatih kemampuan siswa untuk      memecahkan masalah.
2. Games dapat mengasah imajinasi dan spontanitas.
3. Diantara pemain games terdapat atmosfer kerja sama, sosialisasi dan kolaborasi.

Jelas sekali bahwa games memberikan efek positif yang mendukung suasana belajar menjadi kondusif dan menyenangkan. Tambahan dari saya, games juga membantu mengalihkan anak-anak dari ajang mengobrol dan bercanda di dalam kelas.

Namun, sebelum guru mengadakan games perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini agar tujuan pembelajaran tetap tercapai dan kegiatan belajar  tetap kondusif:
1. Tujuan Games harus jelas
Jika games bertujuan meningkatkan kemampuan Reading maka fokuskan pada hal tersebut atau bisa juga games untuk menguatkan pemahaman anak akan materi pelajaran yang sedang mereka pelajari.
2. Games harus terencana dengan baik.
Games harus direncanakan dengan baik. Mulai dari aturan permainannya, lama waktu bermain dan juga alat bantu yang akan dipakai pun harus dipersiapkan dengan baik. Tidak lupa menyiapkan rencana B atau C jika rencana awal tidak berjalan mulus. Perencanaan games yang buruk dapat menyebabkan kegaduhan dan kelas menjadi tak terkendali.
3. Guru perlu memberi instruksi sejelas-jelasnya.
Guru harus menjelaskan peraturan permainan dgn bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ini supaya anak-anak tidak kebingungan pada saat bermain nanti.
4. Guru perlu bersikap adil
Guru harus mencari cara agar games tetap berlangsung adil sehingga tidak ada anak yang merasa dicurangi oleh temannya. Anak-anak juga harus bisa belajar menerima kekalahan.
       
Berikut ini games yang pernah saya coba praktekkan di dalam kelas bahasa Inggris:
1. Mime Games
Saya pernah menggunakan mime games untuk belajar Verb+ing, yaitu dengan menunjuk salah satu siswa untuk berpantomin melakukan pekerjaan seperti "swimming,dancing,jumping,etc" di depan kelas. Sedangkan teman-temannya yang lainnya berusaha menebak kegiatan yang dilakukannya. Sebelumnya diawali dengan guru bertanya "What is she/he doing?"
2. Guess Picture
Permainan ini biasanya saya pakai untuk belajar Vocabulary. Contohnya untuk level anak-anak TK/SD menebak gambar yang digambar temannya ( dgn beragam tema: buah-buahan, hewan, atau benda-benda di sekitar sekolah).
3. TPR Games
TPR kepanjangan dari Total Physical Response. Di permainan ini siswa harus merespon perintah yang diucapkan guru/temannya. Contohnya pada saat mengajarkan “Imperatives” dengan kalimat-kalimat perintah seperti “Stand Up! " maka anak-anak akan berdiri.
4. Hangman
Anak-anak harus menebak kosakata namun huruf demi huruf. Topik untuk kosakata beragam dari mulai nama sayur-sayuran, judul lagu sampai judul film juga bisa. Syaratnya mereka harus mengucapkan tiap huruf dengan spelling bahasa Inggris yang benar. Penentu waktunya adalah “Hangman” atau orang digantung. Seperti contoh berikut:


5. Quiz Contest
Formatnya seperti kuis cerdas cermat hanya saja pertanyaan dan jawabannya dalam bahasa Inggris.

OK. Selamat belajar bahasa Inggris sambil bermain! ^_^

Tuesday, 5 June 2012

Mengenal ‘Quantifier’ dengan ‘Shopping List’ Raksasa

 
 Seingat saya dulu kalau guru bahasa Inggris di SMP & SMA menyajikan pelajaran bahasa Inggris itu tidak menarik. Kini, saya diberi kesempatan untuk mengajar bahasa Inggris. Saya ingin anak-anak didik saya belajar bahasa Inggris dengan hati riang tanpa rasa takut. Saya tidak ingin anak-anak mengalami pengalaman buruk yang bisa menyebabkan mereka membenci bahasa Inggris. Itulah sebabnya setiap akan mengajar bahasa Inggris saya berusaha membawa serta alat peraga. Alat peraga inilah yang membantu saya berinteraksi dengan anak-anak. Dan alat peraga yang saya pakai tidak mahal kok.

Sayapun mencari cara agar penyajian topik rumit seperti tentang  ‘Quantifier’ ini bisa lebih melibatkan anak-anak dan tentunya mereka paham akan manfaatnya dalam kehidupan nyata. Karena bila guru hanya mengandalkan buku teks bahasa Inggris SMP Kelas 1 maka anak-anak akan bosan dan mengantuk.

Akhirnya saya mempunyai ide untuk membuat alat peraga berupa shopping list/daftar belanjaan. Namun ukuran shopping list-nya saya buat dalam ukuran raksasa supaya seluruh anak di dalam kelas dapat melihatnya. Untuk membuat shopping list raksasa ini saya hanya membutuhkan selembar kertas busa tipis berukuran 60 x 40 cm, kertas manila, kertas hvs, potongan gambar bahan belanjaan dan double tape. Kemudian saya desain sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik.

      Berikut ini langkah-langkah penyajian dan penggunaan shopping list:
1. Terlebih dahulu saya mengajak anak-anak untuk berada dalam situasi dimana mereka diminta pergi berbelanja oleh ibu mereka. Saya jelaskan juga bahwa fungsi shopping list ini adalah untuk mempermudah kita dalam membeli bahan belanjaan yang dibutuhkan.

2. Lebih lanjut saya menerangkan situasi dan menyebutkan apa saja isi shopping list-nya.
“Ok. Your mother want to make a cake, she ask you to go to market. So, this is your shopping list:





3. Dari shopping list tersebut saya jelaskan bahwa keterangan seperti: 2 boxes of…, a kilo of…, 3 sachets of… merupakan Quantifier/penanda jumlahnya.

4. Kemudian saya mengajukan pertanyaan seputar isi shopping list tersebut seperti:
• How much sugar do you need to buy ?
• How many eggs do you need to buy?

5. Lalu saya meminta lima murid secara bergantian untuk maju ke depan mengambil gambar barang belanjaan yang sudah saya acak dan menempelkannya ke shopping list raksasa dengan contoh perintah:
• “Nadira,could you get me 3 sachets of margarine,please!” dan seterusnya.




6. Jangan lupa setelah gambar ditempel sesuai dengan yang disebutkan guru, lalu contreng pada bulatan untuk menandakan bahan belanjaan sudah dibeli.

7. Setelah anak-anak mengerti dengan penggunaan shopping list dan Quantifier maka mereka bisa diperkenalkan dengan Quantifier lainnya yang ada di buku teks seperti: a loaf of bread, a bottle of mineral water, a sack of rice, a cup of coffee, a cone of ice cream, a bowl of noodles, a ream of paper, a can of Coca Cola, a bar of chocolate etc.

     Berdasarkan pengalaman saya menggunakan alat peraga shopping list raksasa ini cukup memberikan efek yang berbeda bagi anak-anak dalam belajar bahasa Inggris. Anak-anak menjadi lebih perhatian, lebih tertantang dan lama waktu belajar pun jadi tak terasa. Sehingga jam pelajaran terakhir yang biasanya penuh dengan wajah-wajah lelah langsung berubah dengan wajah-wajah penuh antusias.Oke,semoga bermanfaat.Happy Teaching! ^ _^

Friday, 1 June 2012

Warna-warni Kelas Bahasa Inggris Jarak Jauh di Facebook

Setahun yang lalu, saya sebagai mahasiswa FKIP jurusan Pendidikan Bahasa Inggris mendapat kesempatan mengikuti Program Pengalaman Lapangan di SMP kelas 7 di daerah Ciputat. Dari kegiatan inilah saya belajar secara langsung bagaimana sibuknya mempersiapkan RPP, menyajikan materi, membuat penilaian, mengelola kelas, sampai bersosialisasi di lingkungan sekolah.
Dan salah satu hal yang paling seru bagi saya adalah kesempatan bertemu murid-murid dengan karakter berbeda-beda. Saya senang dapat berbagi ilmu walau saya sempat kewalahan dengan kecerewetan mereka. Untuk itulah saya selalu menyiapkan “box of tricks” setiap kali mengajar.
Tibalah saat masa Program Pengalaman Lapangan akan berakhir. Wah, rasanya berat sekali bagi saya berpisah dengan murid-murid disana. Saya sedih karena merasa belum sepenuhnya memberikan yang terbaik bagi mereka. Apalagi sejauh pengamatan saya, kemampuan bahasa Inggris mereka masih sangat kurang. Terlihat dari kurang pahamnya mereka dengan vocabulary/kosakata yang ada dibuku teks, writing/penulisan mereka masih butuh perbaikan dan pronunciation/pengucapan mereka ketika berbicara masih jauh dari dari pengucapan yang benar.
Saya berpendapat kemungkinan besar karena mereka kurang mendapat exposure/pajanan akan sumber berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari mereka. Guru mungkin juga tidak sepenuhnya membiasakan penggunaan bahasa Inggris yang komunikatif selama di kelas dan di luar kelas.
Kemudian saya pun berinisiatif memberikan alamat facebook yang memang saya khususkan untuk  tempat belajar bahasa Inggris. Hal ini menjadi salah satu cara agar mereka tetap belajar bahasa Inggris walau saya berada jauh dari mereka (kebetulan saya tinggal di Bekasi dan mereka di Ciputat). Jadi ibaratnya saya membuka kelas jarak jauh dan facebook menjadi sarana bagi murid-murid di Ciputat untuk tetap bisa belajar bahasa Inggris dengan saya yang di Bekasi.  Alhamdulillah hal ini disambut baik oleh murid-murid disana.
Setelah kami semua berteman di facebook, barulah saya buatkan mereka grup belajar bahasa Inggris. Grup belajar bahasa Inggris saya desain semenarik mungkin agar mereka nyaman belajarnya. Berikut ini tips-tips dari saya agar grup facebook bisa menjadi tempat belajar bahasa Inggris yang lebih berwarna dan nyaman bagi semua.

1.  Guru perlu membuat peraturan yang wajib dipatuhi murid-murid yang tergabung di grup facebook. Ini bertujuan supaya proses belajar di grup tetap kondusif dan tujuan pembelajaran tercapai. Termasuk didalamnya mengingatkan murid-murid untuk tetap bersikap sopan dalam memberikan pendapat atau komentar.

2.  Mengingat grup facebook yang saya buat adalah untuk belajar bahasa Inggris maka saya mengajak mereka untuk sesering mungkin menggunakan bahasa Inggris dalam aktifitas di grup. Namun jika mereka kebingungan mau menulis apa mereka bisa menggunakan Google Translate atau jika sangat terdesak bisa memakai bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Inggris disini bertujuan agar mereka terbiasa dalam menulis bahasa Inggris.

3. Guru harus kreatif dalam menampilkan materi-materi di grup facebook agar aktifitas belajar lebih hidup. Apalagi dengan beragamnya sumber belajar di internet menjadikan guru punya banyak kesempatan membuat sesuatu yang berbeda dengan belajar di dalam kelas. Berikut contohnya ketika kami belajar ‘Prepositions’ dengan media gambar dari worksheet yang saya download di www.busyteacher.org.



Atau bisa juga menyisipkan video yang bagus untuk dibahas. Seperti memutarkan video dari YouTube yang berkaitan dengan pengenalan kosakata baru. 




4.  Guru juga jangan sampai  lupa untuk memuji murid-murid yang bersikap baik dan aktif di grup facebook. Ataupun memberikan ucapan selamat bila ada diantara mereka yang berulang tahun atau mungkin memberikan semangat ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk ujian. Guru bisa lebih kreatif dengan mengirimkan ucapan dalam bentuk yang unik. 



Jadi walau saya berada di Bekasi dan murid-murid berada di Ciputat dengan bantuan facebook kami tetaplah dekat dan bersemangat belajar bahasa Inggris. Dan sejauh ini yang menjadi faktor penting dalam pengelolaan belajar jarak jauh di facebook ini adalah kreatifitas guru dalam menyajikan materi belajar yang berbeda dengan dikelas pada umumnya. Oke. Semoga bermanfaat! Happy Teaching! ^_^